Selasa, 15 Maret 2011

Satrio Sejati

KEYAKINAN JAWA SURINAME LAHIRKAN SATRIYO SEJATI

Ini adalah sebagian catatan yang membuat saya tersentak akan sesuatau yang belum saya lihat di Jawa dan Indonesia. April lalu selama 30 hari saya melakukan kunjungan ke beberapa kelompok javanisme yang ada di Suriname. Tak hentinya saya bersyukur, karena disanalah saya temukan ‘ permata ’ yang hilang. Dimana ada beberapa fenomena yang masih benar –benar asli dan belum tersentuh oleh sumber-sumber selain adat Jawa yang sesungguhnya. Baik itu berupa ajaran Jawa, benda-benda pusaka dan tata kehidupan nenek moyang ‘wong jowo’ yang telah lama hilang jejaknya.

Pewaris kebudayaan Jawa Suriname masih sangatlah eksis, tidak sedikit mereka teramat bangga menyandang atribut-atribut budaya Jawa termasuk nama anak dan cucunya seperti Sukamto, Gheger, Paiman, Partini, Kaminah dsb. Baju Sorjan, Baju beskap, Blangkon, gamelan juga merupakan simbol-simbol bahwa masyarakat Suriname terus ingin menunjukkan jati dirinya sebagai wong jowo. Berbeda dengan kita yang tinggal di tanah Jawa ini. Ironisnya malah ada yang merasa rendah jika menyandangnya.

Berkembangnya beberapa perkumpulan dari leluhur masyarakat Jawa Suriname seperti Sunar ing Mulyo Sejati, Kasedhan Jati, Pernatan Adat Jawa, Kelompok Javanologi, Sapto Dharmo, Sanggar Pambekti Kasokman , Kejawan dan lain-lain. Sungguh merupakan fenomena yang mengharukan, Manakala kita yang sudah sedikit sekali peduli akan pelestarian budaya Jawa, sedangkan mereka yang sangat jauh disana betul-betul berusaha semaksimal mungkin melestarikan ajaran-ajaran dan budaya Jawa. Dari sekian kelompok ada yang memiliki anggota puluhan sampai ribuan pengikut yang seakan-akan sebagai barisan yang selalu siap mengabdi pada lestarinya budaya Jawa. Meskipun kadang karena fanatisme dapat menimbulkan perbedaan pendapat antar kelompok.

Namun ini merupakan bukti bahwa masyarakat Jawa Suriname memegang teguh ajaran Jawa dan menjadi ageman yang sangat kuat. Disisi lain kelompok yang tidak sependapat menganggap sebagai sebuah agama baru yang disebut Agama Jawa. Padahal jika ditelusur lebih jauh hal ini sebabkan oleh terputusnya tali penghubung antara laku dengan Ngilmu /ajaran, Ngilmu dengan kaweruh dan kaweruh dengan hakekat kasampurnan. Karena bagaimanapun itu merupakan perwujudan manembah maring gusti kanti ageman sejati.

Ada yang menarik yang sangat dominan pada beberapa kelompok di Suriname, dimana sebagian besar kelompok tersebut membina, mengajarkan dan meyakini akan lahir nya satriyo sejati. Ciri khas orang Jawa adalah gemar Laku dan prihatin . Tak luput pula mereka mengajarkan laku topobroto, berprihatin, meditasi dan pencarian jati diri lewat mengenal diri sebagai makhluk ciptaan gusti kang maha agung. Manusia sebenarnya telah memiliki identitas kodrat yang sering kita sebut nama. Nama panggilan Yono, Bayu, Abdul, Siti, Sri adalah nama pemberian manusia. Namun Sang Pencipta Sejati telah memiliki identitas lahiriyah berupa sidik jari, retina mata dan susunan gigi. Sedangkan rekaman hidup adalah merupakan pembawa identitas batiniyah.

Identitas itulah sebagai kode kodrat jalan kehidupan manusia dari sebelum dilahirkan hingga di akhir zaman. Dalam perjalanan kehidupan manusia harus mengerti dan menjalani urip sejati sak Jatining Urip. Malalui proses pegabdian diri kepada sang pencipta dengan manembah rogo, manembah roso dan menembah cipto .

Melalui tahapan proses itulah keyakinan lahirnya satriyo sejati akan terwujud. Sungguh naif jika memahami bahwa akan munculnya satriyo yang dengan kesaktiannya, kelebihannya tiba-tiba bisa merubah tatanan kehidupan. Cling semua berubah. Maka tidaklah mungkin. Satriyo sejati tidak memandang gender, suku, agama, ras dan atribut identitas-identas pengolongan. Satriyo Sejati bisa laki-laki boleh perempuan, bisa rakyat jelata, muda atau tua, pemimpin ataupun yang dipimpin dan siapa saja. Fatalnya kita berharap dan menunggu kedatangan satriyo itu tanpa berbuat sesuatu. Tatanan bumi tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Lewat lahirnya satriyo-satriyo itulah menjadi titik balik kebangkitan peradaban. Jika tiap satu dari seratus penghuni bumi adalah satriyo, maka akan ada satriyo-satriyo yang siap dan salalu menuntun akan hakekat kehidupan yang baik.

Menduga-duga dan meramal lahirnya satriyo sejati adalah seperti mencari tulang tanpa isi. Hanya tampak rupa namun kosong dalamnya. Terlebih lagi yang meng_aku-aku sebagai Satriyo Piningit . Satriyo sejati itu sudah ada pada diri kita. Identitas patent akan menuntun kodrat manusia sebagai kholifah dibumi. Didalam ciptaanNya ada tanda –tanda kebesaran Sang Pencipta. Setiap indvidu harus mampu memimpin dirinnya sendiri, sehingga jelas akan mudah membawa kaumnya ke jalan yang benar dan tatanan kehidupan yang baik. Kedudukan tidak semestinya diperbutkan. Satriyo Sejati hanya mengenal Fastabikul Khoirot. Perilaku riil dan banyak berbuat dari pada bicara..

Siapakah kholifah pertama di dunia ini. Tentu kita akan menjawab Adam. Inilah titik tolak ajaran Jawa Suriname . Ketaatan Adam adalah sebagai perwujudan menembah kepada Sang Pencipta. Implementasi dengan kunci Sirullah, Dzatullah Sifatullah menjadi sumber ajaran Jawa Suriname. Pemahaman tentang Bopo Adam , Ibu Hawa adalah hakekat kembalinya pangabekti kepada pendahulu dan hakikat kekhalifahan manusia di muka bumi. Nenek moyang merupakan bapa ibunya ibu kita, maka ujungnya adalah ajaran Adam Hawa, bahwa ibu saya adalah Hawa dan bapak saya adalah Adam

Kareping manuwoso / kehendak diri manusia akan menjadi penentu akan kesucian jalan hidup adalah menentukan tataran manusia berada pada tahap yang mana, yaitu :

1. Krenthek

Setiap solah bowo, helaan nafas, pikir, krungu, ngucap, ngambu, ningal, roso adalah bukan lagi sebuah karep/ kehendak/ nafsu. Namun merupakan krentek yang keluar dari roso. Sehingga yang muncul adalah kepekaan tanapas, pangrungu, pangucap, pangambu, paningal dan pangroso, Tinarbuko

  1. Sedyo Sejati

Krenthek yang timbul akan menjadi sebuah Sedyo Sejati/ Suci yang berasal dari tetesan Ilahi. Bukan lagi sebuah bisikan. Sehingga Insya Allah apa dilakukannya merupakan petunjuk dan hidayah dari yang Maha Kuasa

3 Satriyo Sejati

Kedudukan satriyo Sejati adalah pada tataran pengertian diri akan urip sejati sak jatinging urip, Siapa Aku, Siapa Gusti sudah benar-benar dalam kondisi yang Khakul yakin. Manembah Rogo, Manembah Roso dan menembah Cipto sudah dihayati berpadu secara harmoni dalam dirinya. Terwujudnya bumi asungkuwat yang merupakan harmoni anatara manusia dengan alam semesta. Satriyo sejati inilah yang dalam hidupnya selalu pada rel kodratullah.

Itulah sebagian dari krieteria Satriyo Sejati yang siapapun memiliki kesempatan sama untuk mewujudkannya. Ajaran Jawa Suriname semestinya perlu dilengkapi dengan kunci selanjutnya. Dimana Sirullah, Dzatullah, Sifatullah harus dilengkapi dengan kunci Muhamadullah sebagai kunci pembuka Nur Muhamad. Sedangkan para nabi yang lain adalah penyambung. Yang membawa konsep maujudnya. Pada dasarnya sumber dari sumber ajaran adalah dari bopo Adam ibu Hawa. Muhamad adalah rasul penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya dan satu-satunya pemberi safaat di akhir zaman. Itulah makanya antara ajaran harus disambung dengan kaweruh. Dimana besok seluruh umat manusia akan menunggu dan mengharap satu-satunya pemberi safaat. Padahal kita tidak menyadarinya bahwa banyak dan tidak pernah habis manfaat yang bisa kita ambil sebagai tuntuntunan dari Muhamad.

Banyu Mataram telah merangkum dan menjabarkan tentang tahapan dan alur dari pemahaman /pameling/ kaweruh tentang ajaran Satriyo Sejati dengan menyibak rahasia Purbo Waseso sehingga menduduki tahapan kasampurnan sebagai Asmo Sejati.

Dalam bagan akan tampak perjalanan laku kehidupan manusia, dimana jalan sebelah kiri adalah koridor Jin, Setan dan Iblis. Sedangkan alur sebelah kanan adalah jalan kodratullah Insya Allah akan selalu mendapat Ridlo Allah SWT.

Jika Negara ini telah banyak satriyo sejati maka itulah disebut Negara/ bangsa yang telah mengerti tentang memayu hayuning bawono.

Catatan 1 - Perjalanan Suriname April 2009

Sriyono

Pemerhati budaya dan kebatinan jawa

Ponco Moyo Banyu Mataram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar